Menelusuri Gedung Ex-Chartered Bank di Kota Tua Jakarta: Sejarah, Misteri, dan Ide Gila
Sore ini kram otak melanda. Baiknya, ambil motor trus cusssss.... ngga perlu arah tujuan, yang penting bisa nyanyi bebas, sambil teriak-teriak diatas dua roda yang melanju kencang. Salah satu bentuk pembebasan diri kaum pria.
Tetapi kalau berbicara berdasarkan sumber sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan, belum ditemukan bukti kuat mengenai legenda hantu tertentu yang secara khusus melekat pada Gedung Ex-Chartered Bank.
Tidak ada sumber terpercaya yang bisa memastikan bahwa gedung tersebut pernah menjadi lokasi pembunuhan misterius, kematian tragis tertentu, atau dihuni sosok gaib tertentu. Jadi cerita semacam itu sebaiknya jangan dianggap sebagai fakta sejarah.
![]() |
Tapi ternyata, ini motor ngajakin lurus terus membelah Jakarta dan masuk ke wilayah kota tua. Lalu lintas sedang lenggang, jadi enak banget deh. Nah, saat melewati Jalan Kali Besar Barat, Rowa Malaka, muncullah bangunan besar, tinggi dan tegap namun sudah ditumbuhi aneka tanaman rambat.
Awalnya jarang ngeh ya... Mungkin karena di wilayah Kota Tua Jakarta emang banyak banget bangunan tua peninggalan kolonial Belandanya, tapi yang satu ini rada beda deh.
Parkir dulu, tanya sana dan sini. Ternyata itu adalah Gedung Ex-Chartered Bank.
Awalnya jarang ngeh ya... Mungkin karena di wilayah Kota Tua Jakarta emang banyak banget bangunan tua peninggalan kolonial Belandanya, tapi yang satu ini rada beda deh.
Parkir dulu, tanya sana dan sini. Ternyata itu adalah Gedung Ex-Chartered Bank.
Gedung Ex-Chartered Bank yang Klasik
Kata Gogel.... Gedung ini ternyata dibangun sekitar tahun 1921 dan dirancang oleh arsitek Belanda yang namanya Eduard (E.H.G.H.) Cuypers. Pada masa kolonial, bangunan ini berfungsi sebagai kantor cabang Chartered Bank di Batavia. Nah, setelah Indonesia merdeka, pengelolaannya pindah ke Bank Umum Negara dan kemudian ke Bank Bumi Daya. Asetnya kemudian berada di bawah Bank Mandiri.
Yang unik, bangunan ini kayaknya bukan sekadar Gedung Tua Belanda doank gaes. Lihat deh, gaya arsitekturnya Neo-Klasik, dengan perpaduan unsur Greek, Renaissance, Doric, dan Corinthian. Kenapa begitu? Karena ada ciri bentuk kubah di sudut bangunan, fasad putih yang monumental, bentuk jendela-jendela tinggi, ada kolom dan ornamen klasik, trus bentuk bangunan simetris lalu konstruksi beton dan dinding bata. Pasti yang ambil jurusan arsitek ngerti deh.
Yang unik, bangunan ini kayaknya bukan sekadar Gedung Tua Belanda doank gaes. Lihat deh, gaya arsitekturnya Neo-Klasik, dengan perpaduan unsur Greek, Renaissance, Doric, dan Corinthian. Kenapa begitu? Karena ada ciri bentuk kubah di sudut bangunan, fasad putih yang monumental, bentuk jendela-jendela tinggi, ada kolom dan ornamen klasik, trus bentuk bangunan simetris lalu konstruksi beton dan dinding bata. Pasti yang ambil jurusan arsitek ngerti deh.
![]() |
| Gedung Ex-Chartered Bank Kota Tua Jakarta |
Terbengkalai dan Kehilangan Fungsi
Kok terkesan dibiarkan begitu ajah.... Nah, ternyata ada info bahwa pernah ada kegiatan penelitian dari Universitas Tarumanagara tahun 2022, yang secara khusus membahas Revitalisasi Gedung Ex-Chartered Bank dan menyebut bahwa bangunan tersebut telah mengalami pergantian fungsi, kemudian ditinggalkan, saat penelitian berlangsung, fungsinya kosong, trus kondisi bangunan tidak terawat dan akhirnya tidak memiliki fungsi lagi.
Artinya, persoalannya bukan sekadar "gedung tua". Gedung tersebut sudah kehilangan fungsi ekonominya setelah tidak lagi digunakan sebagai bank. Ini penting, karena bangunan seluas ribuan meter persegi akan membutuhkan biaya besar untuk pemeliharaan meskipun tidak digunakan, begetooo... bro!
Intinya jika bangunan harus dirawat, tetapi syaratnya tidak boleh direnovasi sembarangan, otomatis membutuhkan kajian ahli, izin, perencanaan konservasi, dan biaya yang sangat besarrrrr...
Artinya, persoalannya bukan sekadar "gedung tua". Gedung tersebut sudah kehilangan fungsi ekonominya setelah tidak lagi digunakan sebagai bank. Ini penting, karena bangunan seluas ribuan meter persegi akan membutuhkan biaya besar untuk pemeliharaan meskipun tidak digunakan, begetooo... bro!
Intinya jika bangunan harus dirawat, tetapi syaratnya tidak boleh direnovasi sembarangan, otomatis membutuhkan kajian ahli, izin, perencanaan konservasi, dan biaya yang sangat besarrrrr...
Ada yang Unik di Dalam Bangunannya
Kabarnya, salah satu hal yang paling menarik dari Ex-Chartered Bank justru berada di dalam. Gedung ini memiliki elemen interior yang sangat bernilai, salah satunya kaca patri karya J. Sabelis & Co. dari Haarlem, Belanda.
Kaca-kaca patri tersebut bukan sekadar ornamen untuk mempercantik ruangan.
Di dalamnya terdapat gambaran berbagai aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa Hindia Belanda. Ada gambaran pekerja tembakau, perkebunan karet, tebu, padi, hingga aktivitas perdagangan. Kalau diperhatikan, sebenarnya kaca patri itu seperti sebuah cerita dalam bentuk gambar.
Ada pekerja, ada hasil bumi, ada perdagangan. Semuanya berkaitan dengan dunia ekonomi yang pada masa itu menjadi bagian penting dari aktivitas Batavia.
Menariknya lagi, karya seni tersebut kabarnya masih berada di dalam bangunan yang kini kondisinya jauh dari masa kejayaannya.
Bayangkan, benda yang dibuat lebih dari seratus tahun lalu untuk menghiasi sebuah bank besar kini menjadi saksi ketika bangunan itu perlahan menua dan kosong. Hmmm....
Kaca-kaca patri tersebut bukan sekadar ornamen untuk mempercantik ruangan.
Di dalamnya terdapat gambaran berbagai aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat pada masa Hindia Belanda. Ada gambaran pekerja tembakau, perkebunan karet, tebu, padi, hingga aktivitas perdagangan. Kalau diperhatikan, sebenarnya kaca patri itu seperti sebuah cerita dalam bentuk gambar.
Ada pekerja, ada hasil bumi, ada perdagangan. Semuanya berkaitan dengan dunia ekonomi yang pada masa itu menjadi bagian penting dari aktivitas Batavia.
Menariknya lagi, karya seni tersebut kabarnya masih berada di dalam bangunan yang kini kondisinya jauh dari masa kejayaannya.
Bayangkan, benda yang dibuat lebih dari seratus tahun lalu untuk menghiasi sebuah bank besar kini menjadi saksi ketika bangunan itu perlahan menua dan kosong. Hmmm....
![]() |
| Sisi lain Gedung Ex-Chartered Bank - Kota Tua Jakarta |
Apakah Gedung ini Berhantu?
Nah, pasti ini yang pengen banget lo tanyain kan? Bikin penasaran.... Biasalah, bangunan tua, kosong, berusia lebih dari seratus tahun, dengan jendela-jendela besar yang sebagian gelap dan fasad yang mulai rusak—tentu saja sangat mudah memunculkan cerita mistis.Tetapi kalau berbicara berdasarkan sumber sejarah yang bisa dipertanggungjawabkan, belum ditemukan bukti kuat mengenai legenda hantu tertentu yang secara khusus melekat pada Gedung Ex-Chartered Bank.
Tidak ada sumber terpercaya yang bisa memastikan bahwa gedung tersebut pernah menjadi lokasi pembunuhan misterius, kematian tragis tertentu, atau dihuni sosok gaib tertentu. Jadi cerita semacam itu sebaiknya jangan dianggap sebagai fakta sejarah.
Tapi tetep aja, gue mikir seribu kali tuh buat masuk.... hahahaha... atuttttt... ntar pas pulang malah ada yang ngikut lageee.... hiiiiiii.
Tetapi bukan berarti kawasan di sekitarnya tidak mempunyai sejarah yang kelam ya gaes. Nah, ini.....
Salah satu peristiwa paling kelam adalah tragedi Batavia pada 1740, ketika terjadi pembantaian besar terhadap masyarakat Tionghoa. Peristiwa tersebut terjadi jauh sebelum Gedung Ex-Chartered Bank dibangun.
Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa pembantaian itu terjadi di dalam gedung Ex-Chartered Bank.
Namun lokasinya kebetulan berada di kawasan kota yang memang memiliki lapisan sejarah sangat panjang, gaes...
Tetapi bukan berarti kawasan di sekitarnya tidak mempunyai sejarah yang kelam ya gaes. Nah, ini.....
Sejarah Kelam
Dahuluuuuu... Kali Besar dan kawasan Kota Tua secara keseluruhan memiliki sejarah panjang, termasuk berbagai konflik dan kekerasan pada masa kolonial.Salah satu peristiwa paling kelam adalah tragedi Batavia pada 1740, ketika terjadi pembantaian besar terhadap masyarakat Tionghoa. Peristiwa tersebut terjadi jauh sebelum Gedung Ex-Chartered Bank dibangun.
Jadi, tidak tepat mengatakan bahwa pembantaian itu terjadi di dalam gedung Ex-Chartered Bank.
Namun lokasinya kebetulan berada di kawasan kota yang memang memiliki lapisan sejarah sangat panjang, gaes...
![]() |
| Siapa berani masuk? |
Ide Gila
Ada satu masalah yang sering muncul ketika kita bicara soal bangunan heritage. Bangunannya tua, bersejarah, arsitekturnya keren, lalu... dijadikan museum.
Nggak salah. Bahkan penting.
Bukan tempat menyimpan uang. Tapi, tempat menyimpan sejarah dan kenangan manusia.
Pengunjung datang membawa sesuatu yang ingin mereka titipkan kepada masa depan. Bisa berupa surat untuk anak atau cucu, foto keluarga, rekaman suara, cerita tentang Jakarta, benda kecil yang punya kenangan, dokumen keluarga, kisah cinta, bahkan kesaksian tentang sebuah peristiwa. Semuanya kemudian diarsipkan secara digital. Sebagian bisa disimpan dalam ruang arsip fisik dengan sistem yang aman. Sebagai gantinya, pengunjung mendapatkan sesuatu yang mirip dengan rekening waktu.
Misalnya neh,
Rekening Waktu #1921-0876
Disetor: 20 Agustus 2026
Isi: Surat untuk cucu
Dapat dibuka: 20 Agustus 2051
Bayangkan... suatu waktu nanti seseorang akan datang dan berkata:
"Saya ingin menitipkan surat untuk anak saya. Tolong buka 25 tahun lagi."
Menarik, bukan?
Gedung yang dahulu berhubungan dengan transaksi keuangan tiba-tiba menjadi tempat manusia melakukan transaksi dengan waktu. Kita menitipkan sesuatu hari ini, lalu seseorang membukanya puluhan tahun kemudian.
Dan ketika dibuka, mungkin orang yang menulisnya sudah tua. Bahkan mungkin sudah tidak ada. Di situlah emosinya.
Gedung tersebut tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi mulai menyimpan masa depan.
Namanya:
Bank Kebohongan
Pengunjung masuk ke sebuah ruangan. Di depan mereka muncul pertanyaan:
"Apa kebohongan terbesar yang pernah Anda katakan?"
Jawabannya anonim.
Tidak ada nama. Tidak ada identitas.
Kemudian semua jawaban dikumpulkan menjadi sebuah instalasi suara.
Dari berbagai sudut ruangan akan terdengar suara manusia:
Tetapi... kalau hampir semua bangunan tua berakhir menjadi museum, lama-lama rasanya seperti melihat orang-orang sepuh dikumpulkan di satu ruangan hanya untuk bercerita tentang masa lalu, hahaha...
Padahal, bangunan heritage sebenarnya bisa melakukan lebih dari itu. Salah satunya adalah Gedung Ex-Chartered Bank di kawasan Kota Tua Jakarta ini.
Kalau benar-benar boleh berandai-andai niiiiiieeee.... tanpa terikat pada pola pemanfaatan bangunan heritage yang biasanya berputar di sekitar museum, restoran, hotel, galeri atau ruang komersial, gedung ini kayanya bisa deh dikembangkan jadi sesuatu yang lebih unik.
Bahkan, fungsi "bank"-nya bisa dipertahankan. Tetapi yang disimpan bukan lagi uang. Melainkan waktu, kenangan, rahasia, cinta, penyesalan dan cerita manusia. Kedengarannya ide gila?
Justru itu menariknya! Kita bisa bikin menjadi :
Padahal, bangunan heritage sebenarnya bisa melakukan lebih dari itu. Salah satunya adalah Gedung Ex-Chartered Bank di kawasan Kota Tua Jakarta ini.
Kalau benar-benar boleh berandai-andai niiiiiieeee.... tanpa terikat pada pola pemanfaatan bangunan heritage yang biasanya berputar di sekitar museum, restoran, hotel, galeri atau ruang komersial, gedung ini kayanya bisa deh dikembangkan jadi sesuatu yang lebih unik.
Bahkan, fungsi "bank"-nya bisa dipertahankan. Tetapi yang disimpan bukan lagi uang. Melainkan waktu, kenangan, rahasia, cinta, penyesalan dan cerita manusia. Kedengarannya ide gila?
Justru itu menariknya! Kita bisa bikin menjadi :
1. Bank of Time
Bank yang Tidak Menyimpan Uang, tetapi Menyimpan Waktu. Ini mungkin ide yang menarik. Bayangkan gedung tersebut tetap dikenal sebagai sebuah bank, tetapi konsepnya dibalik.
Bukan tempat menyimpan uang. Tapi, tempat menyimpan sejarah dan kenangan manusia.
Pengunjung datang membawa sesuatu yang ingin mereka titipkan kepada masa depan. Bisa berupa surat untuk anak atau cucu, foto keluarga, rekaman suara, cerita tentang Jakarta, benda kecil yang punya kenangan, dokumen keluarga, kisah cinta, bahkan kesaksian tentang sebuah peristiwa. Semuanya kemudian diarsipkan secara digital. Sebagian bisa disimpan dalam ruang arsip fisik dengan sistem yang aman. Sebagai gantinya, pengunjung mendapatkan sesuatu yang mirip dengan rekening waktu.
Misalnya neh,
Rekening Waktu #1921-0876
Disetor: 20 Agustus 2026
Isi: Surat untuk cucu
Dapat dibuka: 20 Agustus 2051
Bayangkan... suatu waktu nanti seseorang akan datang dan berkata:
"Saya ingin menitipkan surat untuk anak saya. Tolong buka 25 tahun lagi."
Menarik, bukan?
Gedung yang dahulu berhubungan dengan transaksi keuangan tiba-tiba menjadi tempat manusia melakukan transaksi dengan waktu. Kita menitipkan sesuatu hari ini, lalu seseorang membukanya puluhan tahun kemudian.
Dan ketika dibuka, mungkin orang yang menulisnya sudah tua. Bahkan mungkin sudah tidak ada. Di situlah emosinya.
Gedung tersebut tidak hanya bercerita tentang masa lalu, tetapi mulai menyimpan masa depan.
2. Kaca Patri Menjadi Peta Rahasia
Bangunan kuno biasanya membuat kita berhenti dan berkata:
"Wah, bagus." Lalu foto. Kemudian upload. Selesai.
Padahal elemen arsitektur seperti kaca patri, relief, lantai, jendela, simbol dan detail bangunan bisa dibuat menjadi bagian dari sebuah permainan.
Misalnya pengunjung mendapatkan sebuah kartu:
"Temukan tujuh komoditas yang pernah membuat Batavia menjadi pusat perdagangan."
Mereka kemudian harus mencari petunjuk dari berbagai bagian bangunan.
Ada yang tersembunyi di kaca patri. Ada di relief. Ada di lantai. Ada di jendela. Ada di dokumen. Setiap temuan memberikan satu huruf. Tujuh huruf tersebut kemudian membentuk sebuah kata. Wow keren kan!
"Wah, bagus." Lalu foto. Kemudian upload. Selesai.
Padahal elemen arsitektur seperti kaca patri, relief, lantai, jendela, simbol dan detail bangunan bisa dibuat menjadi bagian dari sebuah permainan.
Misalnya pengunjung mendapatkan sebuah kartu:
"Temukan tujuh komoditas yang pernah membuat Batavia menjadi pusat perdagangan."
Mereka kemudian harus mencari petunjuk dari berbagai bagian bangunan.
Ada yang tersembunyi di kaca patri. Ada di relief. Ada di lantai. Ada di jendela. Ada di dokumen. Setiap temuan memberikan satu huruf. Tujuh huruf tersebut kemudian membentuk sebuah kata. Wow keren kan!
Kalau berhasil, pengunjung mendapatkan akses ke ruang berikutnya.
Dengan konsep seperti ini, arsitektur asli bangunan tidak lagi menjadi sekadar dekorasi. Bangunan itu sendiri berubah menjadi permainan. Anak-anak dan remaja mungkin akan datang karena penasaran.
Orang dewasa datang karena ingin menang. Dan tanpa sadar, keduanya sedang belajar sejarah.
Cara belajar seperti ini biasanya lebih efektif daripada membaca tulisan:
"Gedung ini memiliki nilai penting dalam sejarah... bla bla bla" yang akhirnya dibaca sambil menguap.
Dengan konsep seperti ini, arsitektur asli bangunan tidak lagi menjadi sekadar dekorasi. Bangunan itu sendiri berubah menjadi permainan. Anak-anak dan remaja mungkin akan datang karena penasaran.
Orang dewasa datang karena ingin menang. Dan tanpa sadar, keduanya sedang belajar sejarah.
Cara belajar seperti ini biasanya lebih efektif daripada membaca tulisan:
"Gedung ini memiliki nilai penting dalam sejarah... bla bla bla" yang akhirnya dibaca sambil menguap.
3. Museum Penyesalan: Apa yang Paling Ingin Anda Ubah?
Sekarang kita masuk ke ide yang sedikit lebih dalam.
Buat sebuah ruangan bernama: Ruang Penyesalan
Pengunjung boleh menulis secara anonim:
"Hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah..."
Tidak perlu nama. Tidak perlu identitas. Tidak perlu selfie. Cukup tulisan.
Buat sebuah ruangan bernama: Ruang Penyesalan
Pengunjung boleh menulis secara anonim:
"Hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah..."
Tidak perlu nama. Tidak perlu identitas. Tidak perlu selfie. Cukup tulisan.
Misalnya:
"Saya seharusnya meminta maaf kepada ayah sebelum beliau meninggal."
"Saya terlalu sibuk bekerja dan kehilangan masa kecil anak saya."
"Saya pernah punya kesempatan pergi bersamanya. Saya tidak pergi."
"Saya memilih uang daripada orang yang saya cintai."
Tulisan-tulisan tersebut bisa dipajang secara berkala.
Sederhana, tetapi sangat manusiawi.
Dan lagi-lagi konsepnya cocok dengan identitas bank. Bank biasanya menyimpan sesuatu yang dianggap bernilai. Di sini yang disimpan adalah sesuatu yang sering kita sembunyikan:
Penyesalan.
Mungkin ada pengunjung yang datang untuk membaca. Tetapi kemudian pulang dengan pikiran: "Ternyata bukan cuma saya yang punya penyesalan."
"Saya seharusnya meminta maaf kepada ayah sebelum beliau meninggal."
"Saya terlalu sibuk bekerja dan kehilangan masa kecil anak saya."
"Saya pernah punya kesempatan pergi bersamanya. Saya tidak pergi."
"Saya memilih uang daripada orang yang saya cintai."
Tulisan-tulisan tersebut bisa dipajang secara berkala.
Sederhana, tetapi sangat manusiawi.
Dan lagi-lagi konsepnya cocok dengan identitas bank. Bank biasanya menyimpan sesuatu yang dianggap bernilai. Di sini yang disimpan adalah sesuatu yang sering kita sembunyikan:
Penyesalan.
Mungkin ada pengunjung yang datang untuk membaca. Tetapi kemudian pulang dengan pikiran: "Ternyata bukan cuma saya yang punya penyesalan."
4. Bank Kebohongan: Bank yang Menyimpan Rahasia Manusia
Kalau konsep sebelumnya belum cukup berani, nih ada satu lagi....Namanya:
Bank Kebohongan
Pengunjung masuk ke sebuah ruangan. Di depan mereka muncul pertanyaan:
"Apa kebohongan terbesar yang pernah Anda katakan?"
Jawabannya anonim.
Tidak ada nama. Tidak ada identitas.
Kemudian semua jawaban dikumpulkan menjadi sebuah instalasi suara.
Dari berbagai sudut ruangan akan terdengar suara manusia:
"Aku baik-baik saja."
"Aku tidak mencintainya."
"Aku tidak takut."
"Aku tidak membutuhkan uang."
"Aku sudah melupakannya."
"Aku tidak menyesal."
Semakin banyak pengunjung datang, semakin banyak suara yang terkumpul.
Gedung bank tua tersebut akhirnya menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa disimpan bank biasa, yaitu....
"Aku tidak mencintainya."
"Aku tidak takut."
"Aku tidak membutuhkan uang."
"Aku sudah melupakannya."
"Aku tidak menyesal."
Semakin banyak pengunjung datang, semakin banyak suara yang terkumpul.
Gedung bank tua tersebut akhirnya menyimpan sesuatu yang tidak pernah bisa disimpan bank biasa, yaitu....
Rahasia Manusia.
- Erka




Komentar
Posting Komentar