Bogor Yang Terlupakan : Misteri Lima Batu di Bogor: Ciaruteun, Kebon Kopi, Muara Cianten dan Watu Dakon
Bayangkan suatu pagi kamu berdiri sendirian di tepi sungai. Kabut masih menggantung. Suara air terdengar pelan. Tidak ada gedung tinggi, tidak ada klakson kendaraan, bahkan mungkin sinyal ponsel mulai bertingkah seperti sedang ikut bertapa.
Lalu kamu melihat sebuah batu. Bukan batu biasa. Di atasnya terdapat jejak telapak kaki manusia. Tidak jauh dari sana, ada batu lain dengan jejak kaki gajah. Kemudian sebuah batu bertuliskan aksara yang sampai sekarang belum berhasil dibaca dengan pasti.
Belum selesai.
Di kawasan yang sama, ditemukan pula arca manusia bergaya megalitik dan sebuah batu berlubang-lubang yang oleh masyarakat dikenal sebagai Watu Dakon.
Pertanyaannya sederhana.
Mengapa semua tinggalan itu berada di kawasan yang berdekatan? Kebetulan? Mungkin. Tetapi sejarah sering kali punya kebiasaan aneh: semakin kita menggali, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Selamat datang di salah satu sudut Bogor yang mungkin lebih tua daripada cerita yang selama ini kita dengar tentang kota ini. Inilah Kampung Muara, Ciaruteun dan sekitarnya.
Kalau Ciaruteun meninggalkan jejak kaki manusia, Kebon Kopi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih… besar.
Jejak kaki gajah.
Prasasti tersebut memperlihatkan pahatan telapak kaki gajah dan tulisan yang berkaitan dengan Airawata, gajah kendaraan Dewa Indra dalam mitologi India. Menariknya, kedua prasasti tersebut sama-sama menggunakan simbol telapak kaki.
Ciaruteun:
telapak kaki manusia - Purnawarman.
Kebon Kopi:
telapak kaki gajah - Airawata.
Kebetulan? Bisa jadi.
Tetapi bagi seorang penulis novel misteri, dua simbol ini tentu saja sudah cukup untuk membuat kopi di meja kerja mendadak terasa kurang pahit.
Karena pertanyaan berikutnya muncul: Mengapa simbol jejak kaki begitu penting di kawasan ini?
Batu ini memiliki pahatan berupa bentuk tulisan yang sering disebut aksara ikal. Masalahnya?
Salah satunya adalah sebuah arca tipe Polinesia. Menurut keterangan juru pelihara yang dikutip IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia), arca tersebut berada di tepi muara, di belakang rumah penduduk. Bentuknya seperti sosok manusia yang sedang membungkuk dan kondisinya sudah tidak berkepala. Di dekatnya terdapat empat batu tegak dari andesit.
Kehadirannya membuat Kampung Muara semakin menarik. Sebab, sebelum prasasti-prasasti Tarumanagara meninggalkan nama Purnawarman di atas batu, kawasan ini ternyata sudah menyimpan jejak tradisi yang lebih tua.
Dengan kata lain, sejarah Kampung Muara tidak dimulai ketika Purnawarman datang. Bisa jadi, ceritanya sudah dimulai jauh sebelumnya.
Sekilas orang mungkin mengira nenek moyang kita sedang santai bermain congklak. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan begitu.
Watu Dakon merupakan batu dengan lubang-lubang pada permukaannya dan termasuk dalam tinggalan tradisi megalitik di kawasan Kampung Muara. Bentuknya memang mengingatkan kita pada papan permainan dakon. Namun fungsi sebenarnya tidak sesederhana itu.
Dalam kajian arkeologi, batu-batu seperti ini dapat memiliki berbagai kemungkinan fungsi dan harus dilihat berdasarkan konteks temuan serta lingkungan situsnya.
Watu Dakon berada dalam kawasan yang juga memiliki tinggalan megalitik lainnya.
Ada batu tegak.
Ada arca.
Ada struktur batu.
Dan semuanya berada di kawasan yang kemudian juga menyimpan prasasti dari masa Tarumanagara.
Kelima tinggalan tersebut berada di kawasan Kampung Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sekitar 19 kilometer dari pusat Kota Bogor.
Dari Kota Bogor, arahkan perjalanan menuju Ciampea–Cibungbulang, kemudian lanjut ke Ciaruteun Ilir. Untuk patokan paling mudah, cari Prasasti Ciaruteun di Google Maps. Dari kawasan tersebut, beberapa situs lainnya berada tidak terlalu jauh.
*****
Barangkali masa lalu Bogor tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kita berhenti sejenak… lalu memperhatikannya.
| Prasasti Ciaruteun |
Lalu kamu melihat sebuah batu. Bukan batu biasa. Di atasnya terdapat jejak telapak kaki manusia. Tidak jauh dari sana, ada batu lain dengan jejak kaki gajah. Kemudian sebuah batu bertuliskan aksara yang sampai sekarang belum berhasil dibaca dengan pasti.
Belum selesai.
Di kawasan yang sama, ditemukan pula arca manusia bergaya megalitik dan sebuah batu berlubang-lubang yang oleh masyarakat dikenal sebagai Watu Dakon.
Pertanyaannya sederhana.
Mengapa semua tinggalan itu berada di kawasan yang berdekatan? Kebetulan? Mungkin. Tetapi sejarah sering kali punya kebiasaan aneh: semakin kita menggali, semakin banyak pertanyaan yang muncul.
Selamat datang di salah satu sudut Bogor yang mungkin lebih tua daripada cerita yang selama ini kita dengar tentang kota ini. Inilah Kampung Muara, Ciaruteun dan sekitarnya.
Baca Juga : Kenapa Ada Batu Bulat Besar di Kota Tua Jakarta? Misteri Bola Batu di Dunia
“Tarumanagara!”
Padahal kawasan Bogor menyimpan sejumlah peninggalan penting dari masa Kerajaan Tarumanagara. Salah satu yang paling terkenal adalah Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Purnawarman.
Yang membuatnya menarik bukan hanya tulisannya. Tetapi sebuah simbol yang terpahat di atas batu: sepasang telapak kaki.
Selain itu, ada pula gambar sepasang semacam laba-laba di dekat cetakan "padatala" (telapak kaki) Raja Purnawarman. J. Ph. Vogel pernah berpendapat bahwa bentuk yang dianggap laba-laba itu mungkin berkaitan dengan konsep ahimsa, yaitu prinsip tidak melakukan kekerasan atau tidak membunuh makhluk hidup.
J. Ph. Vogel atau Jean Philippe Vogel (1871–1958), adalah seorang ilmuwan Belanda yang dikenal sebagai arkeolog, epigraf, ahli bahasa Sanskerta, dan peneliti sejarah India serta Indonesia.
Bogor ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih tua daripada kebun raya
Ketika mendengar kata Bogor, yang muncul di kepala kebanyakan orang mungkin hujan, Kebun Raya, angkot, talas, atau kemacetan. Jarang sekali orang langsung berpikir:“Tarumanagara!”
Padahal kawasan Bogor menyimpan sejumlah peninggalan penting dari masa Kerajaan Tarumanagara. Salah satu yang paling terkenal adalah Prasasti Ciaruteun. Prasasti ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-5 Masehi, pada masa pemerintahan Raja Purnawarman.
Yang membuatnya menarik bukan hanya tulisannya. Tetapi sebuah simbol yang terpahat di atas batu: sepasang telapak kaki.
Ya, telapak kaki.
Kalau sekarang seseorang meninggalkan jejak kaki di semen basah, paling banter dimarahi tukang bangunan. Tetapi pada masa Tarumanagara, jejak kaki bisa menjadi simbol kekuasaan seorang raja.
Kalau sekarang seseorang meninggalkan jejak kaki di semen basah, paling banter dimarahi tukang bangunan. Tetapi pada masa Tarumanagara, jejak kaki bisa menjadi simbol kekuasaan seorang raja.
| Lihat di ujung tapak kaki, ada tanda yang mirip laba-laba |
Selain itu, ada pula gambar sepasang semacam laba-laba di dekat cetakan "padatala" (telapak kaki) Raja Purnawarman. J. Ph. Vogel pernah berpendapat bahwa bentuk yang dianggap laba-laba itu mungkin berkaitan dengan konsep ahimsa, yaitu prinsip tidak melakukan kekerasan atau tidak membunuh makhluk hidup.
Oh iya, Prasasti Ciaruteun ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isinya mengaitkan telapak kaki tersebut dengan Raja Purnawarman dan membandingkannya dengan kaki Dewa Wisnu. Artinya, ini bukan sekadar batu yang kebetulan diinjak seseorang. Ini adalah pernyataan kekuasaan.
Lalu muncul jejak kaki yang lain… tetapi kali ini punya empat kaki
Tidak terlalu jauh dari kawasan Ciaruteun terdapat Prasasti Kebon Kopi I, yang sering disebut juga sebagai Prasasti Tapak Gajah.Kalau Ciaruteun meninggalkan jejak kaki manusia, Kebon Kopi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih… besar.
Jejak kaki gajah.
| Prasasti Tapak Gajah |
Prasasti tersebut memperlihatkan pahatan telapak kaki gajah dan tulisan yang berkaitan dengan Airawata, gajah kendaraan Dewa Indra dalam mitologi India. Menariknya, kedua prasasti tersebut sama-sama menggunakan simbol telapak kaki.
Ciaruteun:
telapak kaki manusia - Purnawarman.
Kebon Kopi:
telapak kaki gajah - Airawata.
Kebetulan? Bisa jadi.
Tetapi bagi seorang penulis novel misteri, dua simbol ini tentu saja sudah cukup untuk membuat kopi di meja kerja mendadak terasa kurang pahit.
Karena pertanyaan berikutnya muncul: Mengapa simbol jejak kaki begitu penting di kawasan ini?
Kemudian ada batu yang sampai sekarang membuat para ahli garuk kepala
Kalau Ciaruteun dan Kebon Kopi masih bisa dibaca, ada satu prasasti yang jauh lebih menyebalkan. Namanya Prasasti Muara Cianten.| Prasasti Muara Cianten |
Batu ini memiliki pahatan berupa bentuk tulisan yang sering disebut aksara ikal. Masalahnya?
Tulisan tersebut belum berhasil dibaca secara meyakinkan.
Bayangkan menemukan sebuah pesan dari masa lalu. Pesannya jelas sengaja dibuat. Seseorang pernah mengambil batu, memahatnya, lalu meninggalkannya untuk generasi setelahnya. Namun lebih dari seribu tahun kemudian kita berdiri di depannya sambil berkata:
“Ini tulisannya apa, ya?”
Dan batu itu tentu saja tidak menjawab. Sangat tidak kooperatif. Justru di sinilah letak daya tarik Muara Cianten.
Kita tahu ada pesan.
Bayangkan menemukan sebuah pesan dari masa lalu. Pesannya jelas sengaja dibuat. Seseorang pernah mengambil batu, memahatnya, lalu meninggalkannya untuk generasi setelahnya. Namun lebih dari seribu tahun kemudian kita berdiri di depannya sambil berkata:
“Ini tulisannya apa, ya?”
Dan batu itu tentu saja tidak menjawab. Sangat tidak kooperatif. Justru di sinilah letak daya tarik Muara Cianten.
Kita tahu ada pesan.
Kita tahu pesan itu dibuat manusia.
Tetapi kita belum tahu pasti apa yang ingin disampaikan.
Tetapi kita belum tahu pasti apa yang ingin disampaikan.
Dan sejarah yang belum selesai dibaca selalu menyisakan ruang untuk pertanyaan.
Tetapi tunggu dulu. Ada sesuatu yang jauh lebih tua
Di sinilah kisah Kampung Muara menjadi semakin menarik. Karena kawasan ini ternyata tidak hanya menyimpan peninggalan masa Tarumanagara. Ada pula tinggalan yang menunjukkan adanya tradisi megalitik dan masa sebelum masuknya pengaruh Hindu-Buddha.Salah satunya adalah sebuah arca tipe Polinesia. Menurut keterangan juru pelihara yang dikutip IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia), arca tersebut berada di tepi muara, di belakang rumah penduduk. Bentuknya seperti sosok manusia yang sedang membungkuk dan kondisinya sudah tidak berkepala. Di dekatnya terdapat empat batu tegak dari andesit.
Kehadirannya membuat Kampung Muara semakin menarik. Sebab, sebelum prasasti-prasasti Tarumanagara meninggalkan nama Purnawarman di atas batu, kawasan ini ternyata sudah menyimpan jejak tradisi yang lebih tua.
Dengan kata lain, sejarah Kampung Muara tidak dimulai ketika Purnawarman datang. Bisa jadi, ceritanya sudah dimulai jauh sebelumnya.
Lalu ada Watu Dakon
Namanya cukup lucu. Watu Dakon.Sekilas orang mungkin mengira nenek moyang kita sedang santai bermain congklak. Tetapi jangan buru-buru menyimpulkan begitu.
| Watu Dakon |
Watu Dakon merupakan batu dengan lubang-lubang pada permukaannya dan termasuk dalam tinggalan tradisi megalitik di kawasan Kampung Muara. Bentuknya memang mengingatkan kita pada papan permainan dakon. Namun fungsi sebenarnya tidak sesederhana itu.
Dalam kajian arkeologi, batu-batu seperti ini dapat memiliki berbagai kemungkinan fungsi dan harus dilihat berdasarkan konteks temuan serta lingkungan situsnya.
Watu Dakon berada dalam kawasan yang juga memiliki tinggalan megalitik lainnya.
Ada batu tegak.
Ada arca.
Ada struktur batu.
Dan semuanya berada di kawasan yang kemudian juga menyimpan prasasti dari masa Tarumanagara.
Bogor yang kita kenal ternyata hanya lapisan paling atas
Inilah bagian yang sering terlupakan.
Ketika kita melewati jalan-jalan Bogor hari ini, kita sebenarnya sedang berjalan di atas kota yang memiliki lapisan sejarah sangat panjang.
Ada Bogor hari ini. Ada masa Pajajaran. Ada Tarumanagara. Dan sebelum itu, ada manusia-manusia yang hidup dalam tradisi yang jauh lebih tua lagi.
Ketika kita melewati jalan-jalan Bogor hari ini, kita sebenarnya sedang berjalan di atas kota yang memiliki lapisan sejarah sangat panjang.
Ada Bogor hari ini. Ada masa Pajajaran. Ada Tarumanagara. Dan sebelum itu, ada manusia-manusia yang hidup dalam tradisi yang jauh lebih tua lagi.
Mereka mungkin tidak meninggalkan gedung. Tidak meninggalkan buku. Tidak meninggalkan foto. Mereka hanya meninggalkan batu. Kadang sebuah arca. Kadang sebuah lubang pada batu. Kadang jejak kaki. Dan kadang sebuah tulisan yang sampai sekarang belum bisa kita baca.
Batu-batu itu diam.
Tetapi bukan berarti mereka tidak bercerita. Barangkali masalahnya bukan karena batu itu tidak punya suara. Kitalah yang belum cukup pandai mendengarnya. Dan mungkin, suatu hari nanti, salah satu teka-teki itu akan terpecahkan. Mungkin bukan oleh seorang raja. Bukan oleh seorang arkeolog terkenal. Tetapi oleh seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya:
“Sebenarnya, apa yang terjadi di tempat ini ribuan tahun lalu?"
Batu-batu itu diam.
Tetapi bukan berarti mereka tidak bercerita. Barangkali masalahnya bukan karena batu itu tidak punya suara. Kitalah yang belum cukup pandai mendengarnya. Dan mungkin, suatu hari nanti, salah satu teka-teki itu akan terpecahkan. Mungkin bukan oleh seorang raja. Bukan oleh seorang arkeolog terkenal. Tetapi oleh seseorang yang cukup penasaran untuk bertanya:
“Sebenarnya, apa yang terjadi di tempat ini ribuan tahun lalu?"
Karena sejarah yang terlupakan biasanya tidak benar-benar hilang. Ia hanya menunggu seseorang datang untuk mengingatnya kembali.
Kalau Penasaran dan Mau Datang Langsung
Buat yang setelah membaca artikel ini kemudian berpikir, “Daripada cuma penasaran, mending saya lihat sendiri,” silakan.Kelima tinggalan tersebut berada di kawasan Kampung Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, sekitar 19 kilometer dari pusat Kota Bogor.
Dari Kota Bogor, arahkan perjalanan menuju Ciampea–Cibungbulang, kemudian lanjut ke Ciaruteun Ilir. Untuk patokan paling mudah, cari Prasasti Ciaruteun di Google Maps. Dari kawasan tersebut, beberapa situs lainnya berada tidak terlalu jauh.
*****
Barangkali masa lalu Bogor tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya menunggu kita berhenti sejenak… lalu memperhatikannya.
Bersambung dalam Serial “Bogor Yang Terlupakan.”
- erka
Komentar
Posting Komentar