SAMIDA DI PRASASTI BATUTULIS BOGOR: HUTAN RAHASIA YANG BELUM TERPECAHKAN?

Ada sebuah batu di Bogor yang sudah berdiri selama hampir lima abad.

Ia ngga gede gede amat seeh. Tidak pula menjulang seperti candi. Hanya sebuah batu andesit berwarna abu-abu kehitaman, berbentuk pipih menyerupai gunungan, dengan tulisan kuno yang digoreskan pada permukaannya.

Prasasti Batutulis -  StoryRover
Prasasti Batutulis -  StoryRover

Tetapi jangan salah bro...

Batu ini menyimpan cerita tentang seorang raja, sebuah kerajaan yang hilang, pusat pemerintahan Pakuan Pajajaran, tempat-tempat suci, pembangunan jalan, telaga, gunung-gunungan—dan sebuah kata yang sampai sekarang menarik perhatian:

Samida.

Apakah Samida itu hutan? Kalau iya, hutan seperti apa? Dan pertanyaan yang lebih bikin penasaran lagi:

Apakah hutan itu sengaja dibuat?

Nah, di sinilah cerita mulai menarik.

Batu yang Masih Berdiri di Tengah Kota

Prasasti Batutulis berada di tepi Jalan Raya Batutulis, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Luas areal situsnya sekitar 255 meter persegi.

Sekarang kawasan di sekelilingnya sudah menjadi lingkungan permukiman.

Coba bayangkan.

Dulu, kawasan ini merupakan bagian dari lingkungan Pakuan Pajajaran. Sekarang orang bisa melintas dengan kendaraan, mencari makanan, membuka ponsel, atau mengeluh karena jalan macet.

Sejarah memang kadang punya selera humor sendiri, hehehehe...

Sebuah tempat yang pernah berhubungan dengan pusat kekuasaan Kerajaan Sunda kini berada di tengah kehidupan kota modern.

Dan di sana, batunya masih diam.

Tetapi tulisannya berbicara.

Prasasti Batu Tulis - StoryRover
Prasasti Batu Tulis - StoryRover


Siapa yang Menulis Batu Itu?

Prasasti Batutulis dibuat pada tahun 1455 Saka atau 1533 Masehi. Prasasti tersebut berkaitan dengan Sri Baduga Maharaja, yang lebih dikenal dalam ingatan masyarakat Sunda sebagai Prabu Siliwangi.

Yang menarik, prasasti ini bukan dibuat ketika Sri Baduga masih hidup.

Sri Baduga wafat pada 1521.

Prasasti dibuat sekitar dua belas tahun kemudian. (Baru tau kan...)

Karena itu, prasasti tersebut dipahami sebagai sakakala, atau tanda peringatan terhadap jasa Sri Baduga. Kajian arkeologi juga mengaitkannya dengan tradisi peringatan setelah seseorang meninggal.

Dengan kata lain, batu itu bukan sekadar papan nama kerajaan.

Ia adalah semacam “catatan penghargaan” dari sebuah zaman yang sudah berlalu.

Bedanya, penghargaan zaman sekarang biasanya berupa piagam yang disimpan di lemari.

Yang ini dipahat di batu.

Dan bertahan hampir lima ratus tahun.

Prasasti Batu Tulis - StoryRover
Lokasi penyimpanan Prasasti Batu Tulis - StoryRover

Baca Juga : Bogor Yang Terlupakan : Misteri Lima Batu di Bogor: Ciaruteun, Kebon Kopi, Muara Cianten dan Watu Dakon

Lalu Muncullah Kata “Samida”

Dalam salah satu pembacaan teks Prasasti Batutulis terdapat bagian yang diterjemahkan sebagai:

“Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, mengeraskan jalan dengan batu, membuat (hutan) Samida, membuat telaga Rena Mahawijaya.”

Perhatikan urutannya.

Gunung-gunungan.

Jalan yang dikeraskan dengan batu.

Samida.

Telaga Rena Mahawijaya.

Ini bukan daftar barang belanjaan raja.

Kalimat tersebut menggambarkan berbagai hal yang dikaitkan dengan tindakan Sri Baduga dalam menata atau memperbaiki kawasan Pakuan Pajajaran.

Dan di tengah daftar itu terdapat Samida.

Para peneliti menerjemahkannya sebagai (hutan) Samida dalam konteks tersebut.

Nah, dari sinilah pertanyaan besar muncul.

Apakah Samida Adalah Hutan Buatan?

Jawabannya harus hati-hati.

Kita belum bisa mengatakan bahwa Samida adalah “hutan buatan” dalam pengertian modern.

Tetapi teks prasasti memang memberikan dasar bahwa Samida berkaitan dengan sesuatu yang “dibuat” atau diwujudkan dalam rangkaian pembangunan/penataan yang dikaitkan dengan Sri Baduga.

Itu jauh lebih menarik daripada sekadar mengatakan, “Dahulu ada hutan.”

Sebab kalau hanya hutan alami, mengapa ia dicatat dalam prasasti bersama pembangunan dan penataan lainnya?

Di sinilah interpretasi mulai bekerja.

Mungkin Samida adalah kawasan hutan yang sudah ada kemudian ditata secara khusus.

Mungkin kawasan pepohonan tertentu sengaja dipelihara.

Mungkin ia merupakan kawasan dengan fungsi khusus.

Atau mungkin istilah tersebut memiliki konteks yang lebih spesifik yang belum sepenuhnya kita pahami.

Dan di sinilah kita harus mengerem sedikit.

Karena sejarah bukan film misteri yang semua pintunya harus terbuka pada menit ke-90.

Penelitian Hasan Djafar menunjukkan bahwa pembacaan Prasasti Batutulis sendiri masih menghadapi persoalan paleografi. Beberapa bagian belum terbaca dengan jelas sehingga memungkinkan adanya perbedaan penafsiran.

Jadi, Samida memang menarik.

Tetapi kita tidak boleh seenaknya mengubahnya menjadi “hutan rahasia buatan Sri Baduga” seolah-olah sudah terbukti.

Kalau Begitu, Untuk Apa Samida?

Ini bagian yang lebih menarik.

Penelitian terhadap tinggalan arkeologis di kawasan Batutulis menunjukkan bahwa lingkungan Pakuan tidak hanya memiliki prasasti. Di sekitarnya terdapat berbagai tinggalan lain seperti batu bergores, batu tegak atau menhir, batu tapak, makam, dan arca.

Para peneliti melihat tinggalan-tinggalan tersebut dalam konteks kehidupan religi masyarakat Pakuan Pajajaran.

Artinya, kita tidak sedang berhadapan dengan sebuah batu yang berdiri sendirian di tengah lapangan.

Ada sebuah lanskap budaya.

Ada batu.

Ada ruang.

Ada tempat yang kemungkinan memiliki fungsi tertentu.

Dan ada nama-nama tempat yang disebut dalam prasasti.

Maka Samida bisa saja dipahami sebagai bagian dari tata ruang yang lebih besar.

Bukan sekadar hutan untuk mengambil kayu.

Bukan pula taman kota seperti yang kita kenal sekarang.

Bisa jadi ia mempunyai hubungan dengan lingkungan sakral, ekologis, atau simbolis masyarakat Pakuan.

Namun sekali lagi: fungsi persis Samida masih menjadi wilayah yang menarik untuk diteliti.

Prasasti Batu Tulis - StoryRover
Prasasti Batu Tulis - StoryRover


Mencari Lokasi Samida

Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang lebih seru.

Kalau Samida memang sebuah kawasan hutan yang berkaitan dengan Pakuan, di mana lokasinya?

Tidak ada koordinat GPS dari tahun 1533 yang bisa kita buka di Google Maps.

Sayangnya.

Kalau ada, mungkin sekarang kita tinggal mengetik:

“Samida, Pakuan Pajajaran”

lalu aplikasi menjawab:

“Anda telah tiba di lokasi tujuan.”

Selesai.

Novel sejarah pun tamat di halaman 20. 

Oiya, tapi ada tuh novel online keren yang judulnya "Dua Lelaki di Balik Prasasti" di Aplikasi Fizzo yang khusus ngulik misteri ini. Jreng..... Buruan kepoin. Ini link baca gratisnya : KLIK DISINI

Hehehe...

Tetapi sejarah tidak bekerja seperti itu.

Kita harus mencari petunjuk dari lanskap.

Dugaan Pertama: Kawasan yang Kini Menjadi Kebun Raya Bogor

Salah satu dugaan yang paling menarik menempatkan Samida di kawasan yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor.

Gagasan ini telah muncul dalam sumber-sumber populer mengenai sejarah Bogor. Salah satu sumber bahkan secara langsung menyebut Samida sebagai lokasi hutan yang sekarang digunakan sebagai Kebun Raya Bogor.

Ada pula sumber Universitas Pakuan yang menyebut Samida sebagai hutan buatan yang berada di tengah kota, sekaligus menghubungkannya dengan sejarah kawasan Bogor.

Tetapi apakah itu berarti kita sudah boleh mengatakan:

“Samida = Kebun Raya Bogor”?

Belum.

Dan justru di sinilah kita harus membedakan antara dugaan historis dan bukti arkeologis.

Penelitian BRIN tentang kawasan Pakuan menyimpulkan bahwa lokasi bekas ibu kota Pakuan Pajajaran dapat diidentifikasi di wilayah Kota Bogor, terutama di sekitar Prasasti Batutulis. Namun penelitian tersebut tidak menetapkan koordinat pasti Samida sebagai sebuah hutan di Kebun Raya Bogor.

Jadi, kalau kita ingin jujur secara sejarah, kalimat yang paling aman adalah:

Kebun Raya Bogor merupakan salah satu kandidat lokasi Samida yang menarik, tetapi belum terbukti secara definitif.

Dan kalimat itu justru jauh lebih menarik.

Karena berarti pencarian masih terbuka.

Dugaan Kedua: Samida Tidak Berupa Satu Hutan Kecil

Ada kemungkinan lain yang tidak kalah menarik.

Mungkin kita terlalu membayangkan Samida sebagai sebuah blok hutan dengan batas seperti taman.

Padahal istilah tersebut bisa saja menunjuk pada kawasan vegetasi yang lebih luas.

Bahkan dalam konteks tata ruang Pakuan, Samida mungkin merupakan salah satu unsur dari lanskap kota kerajaan.

Kalau demikian, lokasi Samida tidak harus berupa satu titik.

Ia bisa berupa suatu kawasan yang membentang dari sekitar pusat Pakuan menuju wilayah tertentu.

Ini penting karena lingkungan Situs Batutulis sekarang sudah berubah sangat besar. Situs itu sendiri kini dikelilingi permukiman di sisi utara, timur, dan selatan.

Artinya, mencari Samida dengan cara mencari “hutan yang masih tersisa” mungkin salah strategi.

Yang harus dicari justru jejak lanskapnya.

Sumber air.

Kontur tanah.

Vegetasi lama.

Nama tempat.

Pola permukiman.

Dan hubungan antara situs-situs kuno.

Dugaan Ketiga: Samida Berada di Antara Pusat Pakuan dan Kawasan Sakral

Ini bahkan lebih menarik.

Kalau Samida mempunyai fungsi ekologis sekaligus ritual, sangat mungkin lokasinya tidak dipilih secara sembarangan.

Ia mungkin ditempatkan dekat kawasan yang dianggap penting secara spiritual, tetapi tidak harus tepat di samping prasasti.

Penelitian arkeologi menunjukkan adanya sejumlah situs dan tinggalan di sekitar Batutulis yang dapat membantu menggambarkan kehidupan religi masyarakat Pakuan.

Maka pencarian Samida seharusnya tidak dilakukan hanya dengan bertanya:

“Di mana hutannya?”

Tetapi:

“Di mana kawasan yang secara ekologis dan religius masuk akal bagi sebuah hutan khusus pada masa Pakuan?”

Pertanyaan kedua jauh lebih ilmiah.

Dan juga jauh lebih seru.

Baca Juga : Bogor Yang Terlupakan : Terowongan Tua Sempur - Apa yang Disembunyikan Belanda di Bawah Ciliwung?

Ada Satu Petunjuk yang Tidak Boleh Dilupakan

Prasasti Batutulis menyebut beberapa unsur secara berurutan:

gunung-gunungan → jalan → Samida → Sanghyang Talaga Rena Mahawijaya.

Apakah urutan tersebut sekadar gaya penulisan?

Atau apakah itu menunjukkan urutan jejak lokasi?

Kita belum tahu.

Tetapi jika ternyata daftar itu mencerminkan bagian-bagian lanskap Pakuan yang saling berhubungan, maka kita mempunyai semacam peta dalam bentuk kalimat.

Bukan peta dengan garis dan anak panah.

Tetapi daftar nama.

Dan di situlah Samida mungkin bisa ditemukan. Mungkin loh brai....


Samida.

Hutan yang pernah disebut.

Hutan yang belum kita kenal sepenuhnya.

Dan mungkin... hanya mungkin loh, sebuah bagian dari Pakuan yang selama hampir lima abad bersembunyi di depan mata kita.


- erka



Komentar